Sabtu, 28 Juni 2014

Tarawih Pertama di 2014


Tarawih pertama di lingkungan baru, rumah baru, masjid baru, jemaah baru, di Masjid Bahrul Ullum. 
Semenjak pindah ke Perumahan dinas Polban yang terletak di daerah Setra Duta Regency, Desa Parongpong, Kab. Bandung Barat pada bulan Februari lalu, semua hal dilakukan serba baru juga. Dari mulai hal kecil sampai hal besar pun berubah. Termasuk pada tradisi, terutama yang sangat terasa yaitu tradisi Ramadhan. Aku yang sejak lahir tinggal di pemukiman warga Gegerkalong Hilir, Blok Arjuna, Kota Bandung yang notabene bukan lingkungan komplek, aku rasa Ramadhan kali ini so different. Kalo ditanya kesannya tarawih disini, eumhhh.... penasaran dan tidak biasa. Hal yang paling sangat buat jadi ga biasa itu pertama, jumlah rakaat 11, biasanya 23 walopun memang aku suka 11 rakaatnya alias suka pulang duluan. Kedua, gada shalawatan di jeda setiap rakaatnya alias tidak dilafazkan secara lantang, biasanya itu paliiiiiiing rame, bapak-bapak, kakek-kakek, anak-anak pada teriak "Sollualaiiiiiiiih". Ketiga, Ga baca doa pada rakaat ke-8 alias masing-masing, biasanya rakaat 8 tu jedanya agak lama. Keempat, ga pake qunut di rakaat terakhir, biasanya kalo pas ak lg rajin ikut sampai akhir, suka ada qunutnya, dan itu pula yang waktu jaman2nya nulis ceramah dan di akhir harus tanda tangan, doa qunut itulah yang jadi penanda untuk get ready menyerbu penceramah, karena males ngitung rakaatnya hehehe. Kelima, setelah tarawih, bubar jalan gitu aja, biasanya suka ada dzikir setelah solat, baca niat shaum, dsb lalu langsung disambung salam-salaman berbaris dari depan ke belakang. Keenam, ga ada petasan skitar masjid, padahal walopun berisik itu yang bikin semarak. Ketujuh, paling disayangkan ga ada ritual jajan lagi setelah tarawih, biasanya di deket-deket masjid ada beberapa warga yang jualan kondisional hanya pas ramadhan doang, dan yang dijajakan sperti sudah menjadi tradisi yaitu "Baslub" (baso kulub), "Basreng" (baso goreng), "seblak", "Piscok" (pisang coklat), "cuankie", dan "aneka jus juga es buah/es campur". Kedelapan, ga kedengeran suara tadarusan bapak-bapak setelah tarawih, yang biasanya suka menjadi pengantar tidur aku, karena tadarusannya suka sampai jam 10 malem. Bener-bener berbeda kan? padahal itu semua yang buat aku selalu kangen sama bulan Ramadhan. Tradisi-tradisi seperti itu kayanya bakal aku rindukan banget. Yaah, alhamdulillahnya jarak rumah lama dan yang baru ga terlalu jauh, jadi kalo kangen yaaah bolehlah sekali-kali tarawih di Masjid Al-Amanah, Masjid yang menyimpan segala kenangan dan menjadi saksi bisu semaraknya Ramadhanku selama ini. Argh.. sediiih, keseeel, gereget. Pokonya aku harus cari pelampiasan lain supaya Ramadhanku ini tetap semarak! Untungnya ak masih aktif di KORRA, setidaknya masih punya tradisi yang gakan hilang lagi, yaitu Sanlat Ramadhan. Sanlat juga merupakan salsah satu tradisi yang mempermanis Ramadhanku selama 10 tahun terakhir, yang mulanya aku jadi peserta hingga jadi panitia sekarang. Can't wait to tell story about Sanlat, (^_^). Semoga ini bukan jadi Sanlat terakhir. 
Semoga di kesibukan aku nanti tahun depan masih bisa menyempatkan untuk mempermanis Ramadhanku ini dengan sanlat, dan kedelapan kebiasan Ramadhan di atas. Dan semoga aku bisa betah dan bisa beradaptasi dengan tradisi yang maaf tapi da mau gimana lagi hati aku bilang "Ga betah Ramadhan disini, garing, ga rame, ga semarak, ga asik, euforianya ga kerasa, pengen pindah". Aamiin. ^_^

Tidak ada komentar:

Posting Komentar